

19 Mei 2014 menjadi hari yang tak pernah mereka rencanakan untuk jatuh cinta. Awalnya bukan senyum yang hadir, melainkan persaingan. Nilai, peringkat, dan ambisi mempertemukan mereka dalam sebuah kompetisi kecil yang diam-diam menumbuhkan rasa. Dari saling ingin unggul, tumbuh saling memperhatikan. Dari adu prestasi, lahir cinta monyet yang polos—cinta yang belum berani disebut cinta, namun cukup untuk membuat hari-hari sekolah terasa berbeda.
Waktu kemudian berjalan tanpa menunggu. Jalan hidup membawa mereka ke arah masing-masing, memisahkan jarak dan cerita. Nama itu masih sesekali singgah dalam ingatan, namun tak pernah benar-benar disapa. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka pada 14 Agustus 2022. Pertemuan itu tak lagi diwarnai persaingan, melainkan kedewasaan. Mereka berbincang dengan versi diri yang telah tumbuh, luka yang telah sembuh, dan mimpi yang lebih jelas arahnya.
Hari itu bukan sekadar temu rindu, tetapi awal dari sebuah keputusan: untuk serius, untuk berjalan bersama, dan untuk mengikat janji. Tak lagi cinta monyet yang rapuh, melainkan cinta yang tahu arah pulang.
Dan akhirnya, pada 18 Desember 2024, janji itu diresmikan. Bukan karena waktu yang singkat, melainkan karena perjalanan yang panjang telah mengajarkan arti sabar, setia, dan pulang. Dari persaingan prestasi, ke pertemuan tak terduga, hingga ikatan suci—cinta mereka tumbuh bukan karena kebetulan, melainkan karena takdir yang sabar menunggu waktu terbaiknya.